Rabu, 25 April 2012

CERPEN: PESANTREN, PENGABDIAN DAN PENGABDIAN WANITA SHALEHA

CERPEN: PESANTREN, PENGABDIAN DAN PENGABDIAN WANITA SHALEHA
Ketika mendengar kata "Pondok Pesantren" maka bayangan kita langsung tertuju kepada santri yang keseharian-nya selalu disibukan dengan belajar ilmu-ilmu agama terutama Islam yang lebih dikenal dengan ilmu Salafiyah,
terbayang kepada pakaian mereka yang Islami (sarung, baju koko, kopiah dan sorban untuk santriwan dan jilbab, juba, kain panjang dan baju longgar untuk santriwati), terbayang kepada keseharia mereka yang selalu belajar kitab-kitab kuning, terbayang kepada asrama atau pondok yang terpisah antara santriwan dan santriwati dan masih banyak lagi yang lainnya dimana setiap orang selalu membayangkannya dengan berbeda-beda. itulah dunia pesantren yang penuh dinamika, makna dan realita kehidupan para pencari jati diri.
sekilas tentang pesantren, pesantren pada mulanya merupakan kumpulan orang-orang yang belajar agama secara berkelompok di suatu masjid atau surau atau tempat tertentu seperti rumah atau balai, dimana kelompok tersebut belajar kepada seorang syeikh atau ulama yang mempunyai ilmu agama yang luas, mereka  belajar dalam waktu  tak tentu sampai mereka benar-benar menguasai ilmu Agama itu. hingga akhirnya kelompok-kelompok membentuk pondok-pondok untuk mereka tempati selama mereka belajar Agama. hingga akhirnya berkembanglah menjadi suatu lembaga yang terprogram dan luas hingga sekarang ini, mulai dari Kurikulum hingga administrasi yang ada di dalamnya.
Dunia pesantren lebih banyak diisi dan dirasakan oleh para santri, umumnya mereka memilih mondok (mukim) karena alasan jauh dari rumah asal, ada juga karena sebagai tempat untuk membentuk karakter. sehingga istilah pondok pesantren dikenal dengan beberapa istiilah seperti penjara suci, bengkel rohani bahkan sampai dengan alih kebudayaan.
masa pendidikan santri selama 'nyantri' cukup beragam, ada yang 3 tahun (bagi pesantren yang memiliki lembaga formal seperti Aliyah, Tsanawiyah) ada juga sampai 8 tahun dan 6 tahun tergantung seberapa besar pemahaman mereka terhadap ilmu. 
Dalam dunia pesantren ada satu istilah yang sangat kental dan pasti ada di seluruh pesantren manapun, baik pesantren tradisional hingga pesantren modernpun ada. istilah itu ialah "Ngabdi", ngabdi merupakan sebuah istilah bagi para santri yang ngabdi kepada pesantren. ngabdi sendiri beragam bentuknya. ada yang ngabdi kemasyarakat, ke sekolah, ke lembaga, lembaga dan lainnya. ngabdi yang seperti ini terikat waktu yang berkisar antara 2-3 tahun baik ngabdi di lingkungan pesanteran dimana santri belajar maupun di luar daerah.
kata "ngabdi" juga juga populer digunakan oleh para santri yang bekerja (tanpa upah) di lingkungan dalem (rumah kiyai atau pengasuh pesantren) dengan niat Lillaahi Ta'ala. dan mengharapkan barokah dari pesantren. untuk pengabdian yang seperti ini, yang santri lakukan cukup beragam. mulai dari membersihkan Dalem, membersihkan halaman, mengurus taman, mengurus peliharaan dalem (ternak), mengurus putra atau putri dalem (anak pengasuh yang masih balita) hingga urusan kebutuhan sehari-hari dalem seperti makan, dimana para santri ini ngabdi dengan menyiapkan "dahar" (bahasa halus dari makan untuk dunia pesantren).
Ada juga pesantren yang mengurus konsumsi sehari-hari para santrinya, ini berlaku bagi pesantren yang tidak mengijinkan para santrinya untuk masak sendiri (ngekost) agar belajarnya lebih fokus. ada yang kost di rumah masing-ustadz hingga di dalem sendiri. untuk santri yang konsumsinya disiapkan oleh dalem, jumlah santrinya cukup banyak, berkisar 100-200 orang sehingga tugas para abdi dalem ini lebih banyak terutama untuk urusan konsumsi santri.


BELAJAR SABAR DAN IKHLAS DARI DAPUR DALEM
inilah motivasi para santri, baik santri putra maupun santri putri yang menjadi abdi dalem. tidak Bahkan tidak hanya santri yang belajar yang menjadi abdi dalem, santri yang sudah lulus pendidikan formalnya-pun masih ngabdi. abdi dalem bekerja tidak ada hari libur, mereka hanya libur untuk belajar dan libur ketika liburan akhir sanah (akhir tahun pelajaran) mereka mengahabiskan waktu mereka di dapur, dan belajar sambil masak bagi para abdi dalem adalah hal yang wajar.
santri juga insan biasa yang kadang salah, ketika menjadi abdi dalem tidak jarang teguran yang pedas, sindiran yang menyakitkan hati bahkan sampai tidak ditegur oleh orang dalem selalu mereka rasakan. namun sabar tidak ada batasnya dan ikhlas adalah kunci segala amalnya. saat senggang, mereka menyempatkan diri untuk berbagi kisah dan pengalaman sesama abdi dalem sambil menyelesaikan tugas-tugas mereka memasak, canda tawa, saling memuji dan saling ngeledek itu hal yang biasa terjadi. bagi abdi dalem putra dan putri bisa seperti ini, namun ada batas-batas yang tidak boleh dilakukan yakni berduaan khawatir menimbulkan fitnah. mereka saling membantu dan mereka saling membagi tugas, tak sekali mereka bekerja sendiri dan mereka kadang diawasi oleh pihak dalem yang sekali-kali mengecek kekurangan dan keluhan para abdi dalem ini.
Para abdi dalem harus bangun lebih awal dari santri biasanya, jika santri bangun jam setengah 4 subuh, maka abdi dalem harus bangun jam 3, karena harus menyiapkan semua yang akan dikerjakan setelah subu nanti. mereka baru turun ke dapur setelah jam 5 subuh diwali dengan shalat subuh berjamaah. mereka berkemas, mengerjakan ini, mengerjakan itu hingga sampai jam 06.30 pagi, bagi abdi dalem yang masih sekolah formal mereka harus siap-siap masuk sekolah jam 07.00 pagi dan tentunya mereka sudah capek duluan sebelum mereka belajar dikelas, tidak jarang abdi dalem ini ketiduran dikelas tidak jarang juga abdi yang malah semangat belajarnya. akan tetapi bagi abdi dalem yang sudah tidak lagi sekolah formal, maka tugas mereka tidak selasai di sini, abdi dalem harus menyiapkan sarapan orang dalem, menyiapkan kebnutuhan-kebutuhan untuk dijual di kantin atau koperasi setelah jam istirahat nanti, hingga akhirnya sampai abdi dalem ini juga yang menjaga kantin atau koperasi itu. sama nasibnya dengan abdi dalem yang sekoah tadi, tidak jarang abdi dalem yang menjaga kantin atau koperasi ini tertidur sambil duduk di kantin dan harus terbangun ketika ada santri yang hendak beli jajanan dikantin. adakah mereka mengeluh...?? adakah mereka marah....??? adakah mereka berhenti menjadi abdi..??? jaranga sekali itu terjadi.
sungguh hebat para abdi dalem, hati kalian sungguh mulia dan pengabdian kalian yang ikhlas akan senantiasa membuahkan hasil yang memuaskan dunia dan akhirat.


SOSOK YANG KUAT PRIBADINYA
Jika abdi dalem bisa istirahat, maka tidak dengan sosok ini, dia harus stand by dan siap jika orang dalem memanggil ada ada hajat. rutinitas dia sama dengan santri yang lainnya, yang berbeda hanya dia alumni yang kuliah sambil mengabdi dan dia tinggal di dalem bersama keluarga dalem. oleh karena itu dia harus stand by dan siap.sosok ini adalah sosok yang hebat, jam 03.00 subuh dia sudah harus bangun, mandi subuh (karena jika tidak maka dia tidak sempat) Tahajjud dan shalat lainnya, tilawah, tahfidz mempelajari mata kuliahnya hingga subuh menjelang, kadang ditunjuk menjadi imam di mushalla putri oleh pengasuh pesantren kadang juga dia hanya menjadi makmum. hingga jam 05.00 subuh dia bergegas untuk memulai rutinitasnya di dalem. sosok ini membantu menyiapkan dahar pihak dalem dan juga menyiapkan semua keperluan di koperasi mulai dari jajanan ringan hingga makanan berat. semua ia kerjakan dengan hati-hati dan dengan baik, sekali-kali ia juga bergurau dengan seorang kaka' yang bekerja di dalem (bukan abdi dalem), saling berbagi cerita tentang hari-hari yang dialaminya, saling berbagi pengalaman dan sekali-kali minta pendapat dari kaka' tersebut seputar dunia wanita, istri dan bahkan tentang suami. terdengar suara tawa dan tiba-tiba terdiam ketika ada pihak dalem datang dan tertawa lagi ketika pihak dalem sudah keluar dapur. berbagai suara terdengar disana, dari suara kompor gas yang sedang menggoreng makanan ringan, bunyi air yang dikeluarkan dari kran air hingga punyi pisau yang sedang mengiris-ngiris rempah dan sayur. seperti suara musik yang dimainkan oleh group musik yang sedang latihan indah terdengar dan asyik ditelinga.
Kepenatan itu sirna ketika tawa sebagai nyanyiannya dan bunyi-bunyi itu sebagai musiknya, namun hidup kadang tidak selalu sama, kadang didapur itu hanya ada bunyi musik tanpa nyanian itu, sunyi dan sepi rasanya ini biasanya terjadi jika sosok ini sedang memiliki masalah namun keadaan ini tidak dibiarkan berlalu saja, seorang abdi dalem lain menghiburnya dan berusaha untuk membuat semuanya kembali sedia kala. kadang berhasil kadang tidak, tapi ini tidak selalu terjadi.
Urusan dapur dengan segala pernak-perniknya sudah selesai, namun sosok ini belum selesai dan belum bisa istirahat karena dia harus mengurus kantin, melayani setiap santri yang beli jajanan dan seakan tidak henti tangan dan kakinya begerak. kadang sedih dan kadang kagum dengan pribadinya ini. sedih karena dia tidak sempat itirahat dan kagum dengan badan yang begitu lelah daia masih bisa sambil tersenyum melayani santri yang membeli jajanan. ketika santri sudah mulai belajar di kelas, dia hanya tinggal sendiri, dan saatnya dia istirahat, kadang dia bisa istirahat sebentar namun dia harus mencukuoi lagi jajanan yang habis dibeli santri. setelah semuanya selasai, dia bisa sedikit bernafas lega, sambil duduk kdang dia membuka HP, kadang terlihat dia menelpon ingin berbagi cerita dengan lawan bicaranya. kdanga dia hanya mengetik-ngetik HPnya kemudian dia ambil al-Qur'an dan membacanya, kadang juga dia membaca buku, dan kadang dia hanya tertunduk capek dengan mata sendu di meja kantin. melayani santri tidak henti-hentinya dan tidak pernah terlihat muka masamnya, hanya senyum dan sapa yang keluar meskipun nampak dari wajahnya yang begitu lelah.
ketika pembelajaran selesai di sekolah, dia tidak selesai dengan urusannya di kantin. dia masih harus membantu abdi dalem untuk menyiapkan konsumsi santri hingga pukul 13.30. kadang juga dia membantu memasak untuk konsumsi malam santri. dia hanya istirahat shalat dzuhur, kadang dia tertidur setelah shalat jika semua pekerjaan dapur selesai namun itu jarang sekali ia rasakan. sore yang bisa diarasakan dengan bersantai, sosok ini tidak, dia masih harus latihan qasidah (hari tertentu), menyiapkan muslimatan (tiap jumat), setelah itu dia membantu abdi dalem lain untuk menyiapkan konsumsi malam santri.
Maghrib dan isya ia habiskan waktunya di musholla, sekedar istirahat dan biasa karena begitu capeknya, dia tertidur disana hingga pukul 21.00 dan harus pindah ke dalem lagi. namun jika sosok ini tidak tertidur, ia masih menyempatkan diri belajar salafiyah bersama santri yang lainnya. dengan kondisinya yang capek dia masih menyempatkan diri belajar meskipun dia tidak berkewajiban mengikutinya.
begitu berat dan besar pengabdian dan perjuangannya, tulus dan ikhlas maka tidak ada yang pantas balasannya selain kebaikan dan keselamatan dalam setiap langkahnya dan hidupnya didunia dan akhirat. pengabdiannya yang sekarang ini merupakan cerminan ketulusan untuk pendamping sosok ini nanti. sosok ini pasti akan mendapatkan pendamping yang sama kuatnya dengannya.
...........
semoga Allah SWT memberikan apa yang terbaik untuk sosok ini, pembaca dan kita semua. amiin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar